Paser Belengkong — Dugaan praktik pengetapan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di wilayah Paser Belengkong semakin memicu keresahan masyarakat. Antrean kendaraan di salah satu SPBU setempat dilaporkan membludak, bahkan mencapai ratusan mobil per hari, yang sebagian besar diduga merupakan pelaku pengetapan.
Warga menyebut, sejumlah pelaku bahkan memiliki lebih dari satu kendaraan untuk melakukan pengisian berulang. Modus ini dinilai memperparah distribusi BBM bersubsidi yang seharusnya diperuntukkan bagi masyarakat umum.
Situasi diperburuk dengan kondisi beberapa SPBU lain di sekitar wilayah tersebut yang tidak melayani BBM jenis Pertalite akibat kerusakan alat. Akibatnya, aktivitas pengisian terpusat di SPBU Paser Belengkong, yang kemudian dimanfaatkan oleh para pengetap untuk mengambil keuntungan.
“Mobil bisa sampai ratusan yang antre, kebanyakan diduga pengetap. Kami masyarakat biasa harus antre dari jam 5 subuh dan sering tidak kebagian,” ungkap salah satu warga.
Kondisi ini membuat masyarakat semakin tertekan, terutama bagi mereka yang bergantung pada BBM bersubsidi untuk aktivitas sehari-hari. Warga menilai praktik tersebut tidak hanya merugikan negara, tetapi juga mengabaikan hak masyarakat yang berhak.
Masyarakat secara tegas meminta aparat penegak hukum dan instansi terkait untuk segera mengambil langkah nyata. Penindakan terhadap pelaku pengetapan serta pengawasan ketat di SPBU dinilai mendesak dilakukan agar distribusi BBM bersubsidi kembali tepat sasaran.
Hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang terkait kondisi tersebut. Namun, desakan publik semakin kuat agar aparat tidak tinggal diam dan segera bertindak tegas terhadap dugaan praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi di wilayah itu. (TIM)


Social Header